order@pusatteknik.com
Mesin las inverter kini menjadi pilihan utama bengkel las modern karena lebih ringan, lebih hemat listrik, dan menghasilkan busur yang lebih stabil dibanding mesin las trafo konvensional. Dengan bobot yang bisa seringan 3–5 kg, mesin las inverter mudah dipindah dan cocok untuk penggunaan di lapangan maupun bengkel tetap.
Panduan ini membahas cara menggunakan mesin las inverter secara lengkap mulai dari mengenal bagian-bagiannya, memilih elektroda, mengatur ampere, teknik mengelas yang benar, hingga mengatasi masalah umum saat pengelasan.
Sebelum mulai mengelas, kenali dulu komponen utama mesin las inverter:
Panel kontrol tombol atau dial untuk mengatur ampere output. Sebagian besar mesin inverter modern dilengkapi display digital untuk pembacaan ampere yang akurat.
Terminal positif (+) dan negatif (−) dua terminal output untuk menyambung kabel las. Polaritas pemasangan kabel menentukan karakteristik busur dan penetrasi las.
Kabel las (welding cable) kabel berpenampang besar yang menghubungkan mesin ke stang las (electrode holder) dan tang massa (ground clamp).
Stang las (electrode holder) penjepit elektroda yang mengalirkan arus ke elektroda. Pastikan kondisinya baik penjepit yang longgar menyebabkan elektroda panas berlebih dan busur tidak stabil.
Tang massa (ground clamp) klem yang dipasang ke benda kerja untuk melengkapi sirkuit listrik. Sambungkan sedekat mungkin ke titik pengelasan untuk meminimalkan resistansi.
Tombol power dan indikator pastikan ventilasi mesin tidak terhalang. Mesin las inverter dilengkapi proteksi termal otomatis yang akan mematikan output jika mesin terlalu panas.
Mesin las inverter mendukung beberapa proses pengelasan tergantung fitur yang tersedia:
Ini adalah proses pengelasan yang paling umum dan paling mudah dipelajari. Elektroda terbungkus flux dijepit di stang las, busur listrik melelehkan elektroda dan logam dasar membentuk lasan. Flux pada elektroda terbakar membentuk gas pelindung dan terak yang melindungi lasan dari oksidasi.
Mesin inverter yang mendukung SMAW adalah tipe paling umum dan paling terjangkau cocok untuk konstruksi, fabrikasi besi, dan perbaikan umum.
Menggunakan elektroda tungsten tidak habis dan gas argon sebagai pelindung. Menghasilkan lasan yang sangat bersih dan presisi, cocok untuk baja tahan karat (stainless steel), aluminium, dan logam tipis. Membutuhkan keahlian lebih tinggi dari SMAW karena tangan kiri memegang filler rod sementara tangan kanan memegang torch.
Berbeda dengan las gas atau cara menggunakan cutting torch yang menggunakan nyala oksigen-asetilin untuk memotong logam, las TIG dan SMAW menggunakan energi listrik sebagai sumber panas.
Pemilihan elektroda menentukan kualitas hasil lasan dan kemudahan pengerjaan. Elektroda untuk las SMAW ditandai dengan kode standar AWS:
| Kode Elektroda | Kekuatan Tarik | Kegunaan Utama |
| E6013 | 60.000 psi | Paling umum — baja lunak, pemula, segala posisi |
| E7016 | 70.000 psi | Baja karbon sedang, konstruksi ringan |
| E7018 | 70.000 psi | Konstruksi berat, baja karbon tinggi, low hydrogen |
| E6010 | 60.000 psi | Pipa, posisi vertikal dan overhead, DC+ |
| E308-16 | — | Baja tahan karat (stainless steel) |
Untuk pemula, mulailah dengan E6013 busurnya mudah dinyalakan, percikan minimal, dan terak mudah diangkat.
Ampere yang terlalu rendah menyebabkan elektroda sering lengket dan penetrasi kurang. Ampere terlalu tinggi menghasilkan percikan berlebih dan material terlubang. Gunakan panduan dasar ini:
| Diameter Elektroda | Ketebalan Material | Ampere |
| 2,0 mm | 1–2 mm | 40–60 A |
| 2,6 mm | 2–4 mm | 60–90 A |
| 3,2 mm | 4–8 mm | 90–130 A |
| 4,0 mm | 8–16 mm | 130–180 A |
| 5,0 mm | >16 mm | 180–250 A |
Selalu mulai dari ampere tengah rentang, lalu sesuaikan berdasarkan hasil. Jika terak sulit diangkat dan lasan cekung, naikkan ampere. Jika banyak percikan dan material terlubang, turunkan ampere.
Hasil lasan yang buruk sering disebabkan bukan oleh teknik tapi oleh material yang tidak bersih. Sebelum mengelas:
Untuk elektroda E6013 dan E7018, gunakan polaritas DCEP (Direct Current Electrode Positive): kabel stang las ke terminal positif (+), kabel massa ke terminal negatif (−). Polaritas ini menghasilkan penetrasi lebih dalam dan busur lebih stabil.
Jepit elektroda di stang las dengan sudut 90° terhadap penjepit. Pasang tang massa ke benda kerja atau meja las logam bukan ke badan mesin atau kabel.
Ada dua teknik menyalakan busur:
Jaga jarak busur (arc length) setara dengan diameter elektroda yang digunakan. Jarak terlalu jauh menghasilkan busur tidak stabil dan percikan banyak. Jarak terlalu dekat menyebabkan elektroda lengket ke material.
Pegang stang las dengan sudut 70–80° terhadap permukaan material (condong ke arah jalan), dan 90° ke arah samping (tegak lurus terhadap lebar jalur las).
Kecepatan gerak menentukan lebar dan tinggi manik las. Terlalu lambat = manik terlalu lebar dan tinggi, risiko bakar tembus. Terlalu cepat = manik sempit dan tipis, penetrasi kurang.
Untuk lasan lebar, gunakan gerakan weaving (ayunan):
Setelah selesai satu pass, biarkan lasan mendingin sebentar, lalu angkat terak dengan palu las (chipping hammer) dan bersihkan dengan sikat kawat. Jangan siram air untuk mempercepat pendinginan pendinginan mendadak bisa menyebabkan retak.
Posisi datar (1G/1F) posisi paling mudah, material horizontal di bawah. Gravitasi membantu aliran logam cair ke dalam sambungan.
Posisi horizontal (2G/2F) las pada dinding vertikal, jalur las horizontal. Naikkan ampere 5–10% dari posisi datar, miringkan elektroda sedikit ke atas untuk melawan gravitasi.
Posisi vertikal (3G/3F) las dari bawah ke atas (uphill) atau atas ke bawah (downhill). Uphill menghasilkan penetrasi lebih baik, downhill lebih cepat. Kurangi ampere 10–15% dari posisi datar.
Posisi overhead (4G/4F) las di atas kepala, posisi tersulit. Kurangi ampere 10–15%, gunakan elektroda berdiameter lebih kecil, dan gunakan weave pendek-pendek untuk mencegah logam cair jatuh.
Elektroda sering lengket ke material Ampere terlalu rendah atau jarak busur terlalu dekat. Naikkan ampere 10–15 A, atau perpanjang sedikit jarak busur. Jika elektroda lengket, segera matikan mesin sebelum melepasnya untuk menghindari percikan.
Hasil lasan berlubang (porosity) Disebabkan kontaminasi karat, cat, minyak, atau elektroda lembab. Bersihkan material lebih teliti, keringkan elektroda di oven atau sinar matahari 30–60 menit sebelum digunakan.
Banyak percikan (spatter) Ampere terlalu tinggi, jarak busur terlalu jauh, atau polaritas salah. Kurangi ampere, perdekat jarak busur, dan periksa koneksi polaritas.
Lasan retak setelah dingin Kemungkinan material mengandung karbon tinggi dan perlu dipanaskan dulu (preheating) sebelum dilas. Gunakan elektroda low hydrogen (E7018) dan panaskan material ke 100–200°C sebelum mengelas.
Busur tidak mau menyala Periksa koneksi kabel pastikan semua sambungan kencang. Periksa apakah mesin dalam mode proteksi termal biarkan dingin 5–10 menit. Cek kondisi stang las dan tang massa.
Keselamatan saat mengelas tidak bisa dikompromikan. Paparan busur las menghasilkan radiasi UV dan inframerah yang berbahaya bagi mata dan kulit.
Pusat Teknik menyediakan jual mesin las inverter dari berbagai brand terpercaya untuk kebutuhan bengkel, konstruksi, dan industri lengkap dengan elektroda, kabel las, dan aksesoris pengelasan. Tim teknis kami siap membantu memilih spesifikasi mesin las yang tepat sesuai kebutuhan material dan kapasitas daya listrik yang tersedia. Konsultasi gratis, tanpa komitmen.
Untuk ketebalan material 3mm, gunakan elektroda 2,6mm atau 3,2mm dengan ampere 70–110 A. Mulai dari angka tengah (90 A), lalu sesuaikan. Jika manik las terlalu tinggi dan sempit, naikkan ampere. Jika banyak percikan atau material mulai terlubang, turunkan ampere.
Tergantung spesifikasi mesin. Mesin las inverter 900 watt umumnya membutuhkan daya input 2.000–4.000 watt saat beroperasi pada ampere penuh, sehingga tidak cocok untuk listrik 900 watt. Pilih mesin las inverter yang memiliki duty cycle rendah dan ampere maksimum di bawah 90 A jika daya listrik terbatas, atau upgrade daya listrik terlebih dahulu.
Mesin las inverter menggunakan teknologi switching frekuensi tinggi sehingga lebih ringan (3–8 kg vs 20–50 kg untuk trafo), lebih hemat listrik (efisiensi 85–90% vs 60–70% trafo), dan menghasilkan busur yang lebih stabil. Kekurangannya, mesin inverter lebih sensitif terhadap fluktuasi tegangan dan memerlukan perawatan elektronik yang lebih cermat.
Lubang-lubang kecil pada lasan (porosity) hampir selalu disebabkan kontaminasi: karat, cat, minyak, atau elektroda yang lembab. Bersihkan material lebih teliti dengan gerinda atau sikat kawat, gunakan thinner untuk menghilangkan minyak, dan keringkan elektroda sebelum digunakan. Elektroda E6013 dan E7018 yang sudah lama terbuka perlu dikeringkan di oven 150–200°C selama 1–2 jam sebelum dipakai.