order@pusatteknik.com
Banyak tukang las berpengalaman yang tahu cara mengoperasikan mesin las dengan baik, tapi masih sering salah memilih kawat las untuk pekerjaan yang dihadapi. Kawat las yang salah tidak hanya menghasilkan sambungan yang lemah dalam beberapa kasus bisa menyebabkan retak pada logam induk, korosi prematur, atau kegagalan sambungan di bawah beban yang seharusnya bisa ditahan.
Kawat las adalah bahan habis pakai yang berfungsi sebagai pengisi (filler) logam yang meleleh bersama logam induk untuk membentuk sambungan las. Pemilihan kawat las yang tepat ditentukan oleh jenis logam yang dilas, jenis mesin las yang digunakan, posisi pengelasan, dan kekuatan sambungan yang dibutuhkan.
Artikel ini membahas semua jenis kawat las yang umum digunakan di Indonesia, cara membaca kode pada kemasan, dan panduan praktis memilih yang tepat. Untuk referensi mesin las yang digunakan bersama kawat ini, baca juga panduan cara memilih mesin las inverter.
Elektroda las batang adalah jenis kawat las yang paling umum di Indonesia digunakan bersama mesin las SMAW (Shielded Metal Arc Welding) atau yang dikenal dengan mesin las listrik biasa. Bentuknya berupa batang logam berlapis fluks dengan panjang sekitar 350mm.
Cara kerja: Arus listrik mengalir dari mesin las melalui elektroda ke logam induk, menciptakan busur listrik yang menghasilkan panas sangat tinggi. Panas ini melelehkan ujung elektroda dan logam induk secara bersamaan, sementara lapisan fluks di luar elektroda terbakar menghasilkan gas pelindung yang mencegah oksidasi pada lasan basah.
Kode elektroda contoh E6013:
Elektroda yang paling umum di Indonesia:
Las MIG (Metal Inert Gas) dan MAG (Metal Active Gas) menggunakan kawat las berbentuk gulungan (spool) yang diumpankan secara otomatis oleh mesin. Proses ini jauh lebih cepat dari SMAW dan menghasilkan sambungan yang lebih bersih karena tidak ada terak yang perlu dibersihkan.
Perbedaan MIG dan MAG:
Kawat MIG/MAG yang umum:
Las TIG menggunakan elektroda tungsten yang tidak habis terbakar untuk menciptakan busur, sementara kawat las (filler rod) ditambahkan secara manual oleh tangan las operator. Proses ini paling lambat di antara ketiganya tapi menghasilkan sambungan dengan kualitas estetika dan metalurgi tertinggi.
Kawat TIG (filler rod) yang umum:
Kawat flux-cored berbentuk seperti kawat MIG tapi berlubang di tengahnya dan diisi fluks. Menggabungkan kecepatan las MIG dengan kemampuan las SMAW untuk bekerja di kondisi angin dan pada logam yang sedikit berkarat.
Digunakan untuk konstruksi berat, shipbuilding, dan pekerjaan lapangan di mana gas pelindung eksternal sulit digunakan.
Diameter kawat las menentukan arus yang dibutuhkan dan ketebalan logam yang bisa dilas:
| Diameter | Arus (Ampere) | Ketebalan Logam |
| 2,0 mm | 40–80 A | 1,5–3 mm |
| 2,6 mm | 60–110 A | 2–5 mm |
| 3,2 mm | 80–140 A | 3–8 mm |
| 4,0 mm | 120–200 A | 6–15 mm |
| 5,0 mm | 160–250 A | 10 mm ke atas |
Aturan praktis: gunakan elektroda berdiameter sekitar 1/4 ketebalan logam yang dilas, dengan batas atas 4,0 mm untuk mesin las inverter rumahan.
Ini keputusan pertama dan paling menentukan. Kawat las untuk baja karbon tidak bisa digunakan untuk stainless steel, dan kawat stainless tidak bisa untuk aluminium. Menggunakan kawat yang salah menghasilkan sambungan yang getas, tidak menyatu dengan baik, atau bahkan retak setelah beberapa waktu.
Tidak semua kawat las kompatibel dengan semua mesin:
Digit ketiga kode elektroda menunjukkan posisi yang bisa digunakan. Elektroda dengan kode posisi “1” bisa digunakan di semua posisi. Elektroda kode “2” hanya untuk posisi datar dan horizontal. Untuk pekerjaan di atas kepala (overhead) atau vertikal, pastikan elektroda yang dipilih mendukung posisi tersebut.
Gunakan tabel diameter di atas sebagai panduan. Untuk pemula, mulai dengan 2,6 mm atau 3,2 mm diameter kecil lebih mudah dikontrol. Diameter lebih besar membutuhkan arus lebih tinggi dan mesin las dengan kapasitas yang memadai.
Elektroda las sangat sensitif terhadap kelembaban, terutama jenis low hydrogen (E7016, E7018). Elektroda yang lembab menghasilkan gelembung hidrogen dalam lasan yang menyebabkan porositas dan retak.
Simpan elektroda dalam kemasan aslinya yang tertutup rapat atau dalam oven elektroda (electrode oven) pada suhu 60–80°C. Elektroda low hydrogen yang sudah terbuka dan terpapar udara lebih dari beberapa jam perlu di-rebake (dipanaskan ulang) pada suhu 300–350°C selama 1 jam sebelum digunakan kembali.
Memilih kawat las yang tepat sama pentingnya dengan memiliki mesin las yang baik. Kawat las yang salah bisa merusak pekerjaan las yang secara teknik sudah dilakukan dengan benar.
Tiga hal utama yang menentukan pilihan kawat las adalah jenis logam yang dilas, jenis mesin yang digunakan, dan posisi pengelasan. Untuk pekerjaan umum pada baja karbon dengan mesin las listrik biasa, elektroda E6013 diameter 3,2 mm adalah titik awal yang tepat untuk sebagian besar situasi.
Investasi pada kawat las berkualitas dari merek terpercaya selalu lebih ekonomis dalam jangka panjang dibanding menghemat pada kawat murah yang menghasilkan ulangan kerja atau kegagalan sambungan. Baca juga panduan cara menggunakan mesin las inverter untuk memaksimalkan hasil pengelasan.
Pusat Teknik distributor dan supplier jual kawat las original di Jakarta. Tersedia elektroda las berbagai tipe dan ukuran, kawat MIG, dan kawat TIG dari brand terpercaya stok lengkap, bergaransi, pengiriman ke seluruh Indonesia.
Kawat las solid (MIG/TIG) dalam kemasan tertutup bisa disimpan bertahun-tahun tanpa masalah. Elektroda batang tipe rutile (E6013) juga relatif tahan jika disimpan di tempat kering. Yang paling rentan adalah elektroda low hydrogen (E7016, E7018) jika terpapar kelembaban, harus di-rebake sebelum digunakan atau kualitas lasan akan menurun signifikan.
E6013 menggunakan fluks rutile, lebih mudah digunakan, busur lebih halus, dan cocok untuk pekerjaan umum. E7016 menggunakan fluks low hydrogen yang lebih sulit dikontrol tapi menghasilkan sambungan dengan kekuatan dan ketangguhan lebih tinggi. Untuk konstruksi struktural atau aplikasi kritis, E7016 atau E7018 lebih direkomendasikan daripada E6013.
Elektroda yang sudah digunakan setengah bisa disimpan dan digunakan kembali, dengan syarat disimpan dalam wadah kedap udara atau oven elektroda. Ujung elektroda yang sudah terkena panas tidak akan bermasalah yang perlu dijaga adalah lapisan fluks di bagian yang belum digunakan agar tidak menyerap kelembaban.
Konsumsi kawat las sangat bergantung pada ketebalan logam, panjang lasan, dan jumlah pass (lapisan). Sebagai panduan kasar: untuk baja 5mm dengan elektroda 3,2mm, dibutuhkan sekitar 0,1–0,15 kg elektroda per meter lasan. Untuk proyek besar, selalu beli lebih 20–30% dari perkiraan untuk mengakomodasi sisa batang dan variasi kondisi lapangan.